Postingan

Pengalaman Naik BRT Semarang Part 2

Gambar
Halo halo! Mau cerita lagi pengalaman naik BRT Semarang. Cukup bayar Rp. 5000 saja sudah bisa berkeliling Semarang. Rp. 5000 itu terdiri dari 1 anak batita bayarnya Rp. 1000 dan 1 orang dewasa yaitu saya sendiri Rp. 4000. Bagaimana? Tertarik naik BRT Semarang? Kemarin, saya mulai naik BRT dari shelter di Mijen. Dari rumah naik grab menuju shelter. Kemudian menunggu sekitar 15 menit, akhirnya BRT datang. Saya naik BRT dan dapat tempat duduk. Ada anak SMP yang menawarkan tempat duduknya ke saya. Saat itu rame banget soalnya barengan sama anak sekolah pulang sekolah. BRT nya full anak sekolaham mulai dari SD, SMP dan SMA. Saya baru kemarin itu lihat anak SD naik BRT, keren sih! Bisa pulang pergi sekolah secara mandiri naik BRT. Karena tujuan saya ke Banyumanik, jadi harus transit dulu di Balai Kota. Sekitar 40 menitan naik BRT, sampai juga di Balai Kota untuk menunggu BRT selanjutnya. Di tempat transit ada 4 pintu dan 1 pintu kedatangan. Saya baru pertama kali menu...

Tips Memilih PAUD dan TK untuk anak kita

Hai, mama dan papa! Anak saya sebentar lagi umurnya 2 tahun. Kurang beberapa tahun lagi masuk PAUD dan TK. Masih beberapa tahun sih, tapi perlu kan persiapan untuk memilih sekolah yang tepat untuk anak kita. Berikut tips dari saya untuk memilih PAUD dan TK untuk anak saya:  Lihat visi dan misi sekolah. Misalnya apakah sekolah tersebut mendukung adanya LGBT atau tidak? Soalnya baru-baru ini banyak video yang bersebaran bahwa sekolah yang taraf internasional di Indonesia pun mendukung adanya LGBT. Kalau saya tidak mendukung adanya LGBT karena di agama Islam dilarang. Tapi saya hanya menghargai saja sebagai sesama manusia.  Lihat guru mengajar saat proses belajar mengajarnya di kelas. Nah, penting banget nih mama dan papa untuk melihat bagaimana kelas berlangsung. Apakah kondusif atau tidak? Apakah guru bisa menguasai keadaan kelas? Hal tersebut perlu diamati dulu sebelum menentukan sekolah PAUD dan TK untuk anak kita. Lihat respon anak saat berkomunikasi dengan guru dan teman-te...

Hutang Bank Sudah Menjadi Gaya Hidup

Di desa tempatku asal, kali ini masyarakatnya berbondong-bondong hutang bank. Baik itu bank harian atau bank yang bayarnya 3 bulanan sekali. Bukan hanya satu atau tiga keluarga (kebanyakan istrinya yang hutang) tapi sudah lebih dari 10 orang. Kebiasaan hutang bank sudah dijadikan sebagai gaya hidup. Sebab mereka hutang bank untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya seperti beli baju dan makan, sedangkan seharusnya hutang bank itu sebelumnya sudah harus mikir bagaimana cara membayarnya nanti. Memang hutang banknya mudah, tapi mikir juga bagaimana cara membayarnya. Itu seharusnya yang dipikirnya sebelum hutang bank.  Sepertinya juga saat itu musim kemarau dan hasil panen bawang merah tidak bagus sehingga banyak masyarakat yang memutuskan untuk hutang bank. Karena petani biasanya yang tidak punya sawah sendiri memilih untuk membeli sawah tahunan---biasanya bayarnya 5 juta tiap 1 ru tanah. Itu juga mereka lebih memilih hutang bank untuk modal menanam bawang merah. Mulai dari membayar saw...